Ade Zaenudin

Lahir di Garut, tinggal di Jakarta, tugas di MTsN 3 Kota Tangerang Banten....

Selengkapnya
TEKNOLOGI RUH KARYA ALI SOBIRIN EL-MUANNATSY

TEKNOLOGI RUH KARYA ALI SOBIRIN EL-MUANNATSY

Buku ini “haram” dibaca oleh orang yang sudah merasa nyaman dengan kehidupannya saat ini dan tidak punya niat untuk berubah ke arah yang lebih baik. Membaca judul buku ini membuat kening mengkerut, kepala terasa ngebul, kawan saya bilang, “bahaya ente baca buku begini”. haha… kasian sekali, anda ter… ti… pu...

Buku ini dikemas dalam bentuk nasihat seorang ayah kepada anak-anaknya, sehingga pembaca tidak seolah sedang digurui.

Pembahasan yang terasa “berat” penulis coba “ringankan” dengan bentuk cerita dan analogi yang mudah dicerna, dengan kemasan seperti itu, pembahasan yang “berat” seolah terasa “ringan” dan nikmat dibacanya.

Pendahuluan

Pada Bab Pendahuluan, penulis menyuguhkan sebuah kisah agar kita berhati-hati dalam mencerna sebuah pesan, pentingnya bersikap dengan benar, dan perlunya semangat dan kesungguhan.

Alkisah…

Pada zaman dahulu, di sebuah padepokan di puncak gunung, terdapat seorang resi yang memiliki tiga orang murid bernama Klowor, Klewer, dan Kliwir. Badan mereka ceking semua.

Suatu pagi sang resi memerintahkan mereka mendorong sebuah batu yang sangat besar, saking besarnya mereka namakan batu gajah.

Klowor yang merasa berbadan kecil tidak sanggup untuk menggeser batu gajah tersebut, dia bilang “tidak mungkin kami bertiga mampu menggeser batu yang begitu besar tersebut”.

Klewer diam seribu bahasa sambil sambil garuk-garuk kepala dan mengangguk–angguk, kelihatannya sedang berpikir keras mengabulkan perintah sang guru.

Kliwir berbeda, dia langsung berucap “Sendiko dawuh, Guru…” tanpa berpikir panjang kliwir langsung menghampiri batu besar tersebut dan mendorongnya. Berhari-hari dia dorong, dengan mengeluarkan semua kekuatannya namun tanpa hasil, batu tetap ditempatnya.

Klewer yang berpikir keras menyampaikan idenya ke Klowor dan Kliwir, kita pakai pengungkit. Kliwir siap membantu dengan segenap tenaganya namun Klowor tetap pesimis “Ah, tidak mungkin bisa, Wer. Batu itu sangat besar.

Terpikir sebuah pohon besar, Klewer bergegas ke padepokan mengambil parang. Sebuah pohon yang besar dengan penuh perjuangan didapatkan Klewer dari atas gunung yang tinggi, namun masalah kembali muncul, bagaimana cara mengungkitnya, dengan menggunakan apa?. Sampai terpikir, Batu besar.

Setelah bersusah payah mengatur peletakan batu dan meletakan pohon besar sebagai pengungkit, namun perjuangannya belum juga membuahkan hasil, karena begitu besarnya batu yang akan digeser.

Bandulan demi bandulan terus ditambahkan sampai akhirnya Klewer naik ke atas pohon dan melompat-lompat di atasnya. Klewer malah terjatuh dan nyaris tertimpa batang pohon yang patah.

Dua kali purnama mereka belum berhasil juga, sang resi memanggil mereka. Klowor berjalan dengan gagahnya dan bilang kepada kedua temannya, “Betul kan kataku, batu itu tidak bisa bergeser.

Sesampainya ketiga murid tersebut duduk bersila, sang resi melepaskan surbannya dan memberikannya ke Kliwir. “Keringkan keringatmu, dan surban itu aku hadiahkan untukmu.”

Sang resi menjelaskan bahwa ia hanya memerintahkan mendorong batu besar, bukan menggesernya, ia tahu bahwa ilmu mereka belum cukup untuk menggeser batu besar tersebut. Gurunya hanya ingin melihat keringat dan kerja keras mereka.

Kemudian gurunya berkata,”Aku perhatikan, tampaknya kamu tidak segan bermain parang. Oleh karena itu, pedang ini aku hadiahkan untuk kamu,” Sang resi menyerahkannya kepada Klewer.

Kliwir dapat surban, Klewer dapat pedang sementara Klowor tidak mendapat apa-apa.

Ruh

Terkait ruh, penulis mengutip sebuah ayat, “Ketika mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka jawablah: ruh adalah urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit saja” (QS. Al-Isra/17: 85)

Atas dasar ayat tersebut, penulis tidak memperdalam ruh secara ontologis. Ibarat komponen pada komputer atau sirkuit yang ada di gajet, kita tidak terlalu penting memahami detil komponen dan sirkuit yang cukup kompleks yang ada di dalamnya, namun kita sangat piawai menggunakan fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Begitupun Teknologi Ruh di buku ini, lebih mengurai pada bagaimana menggunakan ruh untuk mengubah hidup sebagaimana mestinya.

Teknologi ruh merupakan ilmu tentang bagaimana memadukan empat unsur internal, yaitu: nafas, hati, pikiran dan otot tulang. Ruh bersemayam di tiga unsur: nafas, hati dan pikiran. Ketika salah satu dari tiga unsur tersebut tidak berpadu dengan benar maka akan terjadi kegoncangan, dan jika salah satunya tidak berfungsi maka itu pertanda ruh siap berpindah tempat.

Menuju Puncak Spiritualitas Tertinggi

Puncak spiritualitas tertinggi adalah bersua, bersama lalu bersatu dengan spirit tertinggi (Tuhan), yaitu sebuah upaya atau harapan aktif yang senantiasa melekat dalam segenap hembus nafas dan derap langkah kehidupan seorang makhluk perindu demi bersua, bersama, dan bersatu dengan Sang Kekasih.

Demi bersua dengan Sang Kekasih maka syarat mutlaknya adalah cinta, ibarat pepatah “gunung kan kudaki, lautan kan kusebrangi”, begitulah orang yang sudah dimabuk cinta.

Hal penting yang harus dimiliki seseorang sebagai pra-kondisi untuk meggapai puncak tertinggi spiritualitas adalah kesadaran tentang potensi diri yang dimilikinya baik yang bersifat soft-skill seperti kemampuan berkomuniasi, berempati dan lain sebagainya, maupun hard-skill seperti mendisain, menulis dan sebagainya, tanpanya akan menemui jalan buntu. Selanjutnya adalah pemupukan potensi yang dimiliki tersebut secara bebas, yaitu dengan rasa kepemilikan dan kebangaan terhadap segala potensi yang ada disertai keyakinan betapa agungnya karunia tersebut.

Sosok manusia berikut karyanya merupakan hasil dari proses kerja syaraf-syaraf yang dikomandoi oleh syaraf-syaraf utama yaitu otak. Otak memiliki tiga bagian utama: (1) otak (cerebrum), bagian ini terlibat mengingat, pemecahan masalah, pemikiran dan perasaan mengontrol gerakan. (2) otak kecil (cerebellum) berfungsi mengontrol koordinasi dan keseimbangan. (3) batang otak (brain stem) berfungsi menghubungkan otak ke sumsum tulang belakang dan mengontrol fungsi otomatis seperti pernapasan, pencernaan, detak jantung dan tekanan darah. Selain IQ, kita juga mengenal Emotional Quotient dan Spiritual Quotion (ESQ).

Seseorang dapat dikatakan telah menggapai puncak spiritualitas tertinggi adalah ketika keseimbangan antara spiritualitas dan rasionalitas itu termanifestasi secara jelas dalam kehidupan sehari-hari, mewujud dalam tindakan, menyata melalui kemanfaatan.

Penguatan Citra Diri

Ada ungkapan sufi yang menyatakan “man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu, siapa yang mengetahui dirinya sungguh ia mengetahui Tuhannya”. Lebih jelas lagi penulis mengatakan “Siapa yang memahami ‘diri’nya, maka ia memahami ‘potensi’nya, siapa yang memahami ‘potensi’nya maka ia bisa mengendalikan ‘diri’nya.

Di sinilah pentingnya kita mengenali jati-diri kita, dan salah satu cara untuk membenahi jati-diri adalah dengan melakukan proses ‘pemaksaan’ (coersif process) melalui pengenalan syaraf-syaraf otak dengan keadaan yang diinginkan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara pelanggengan suatu aktivitas atau dengan menanamkan ‘ide’ tertentu ke dalam alam pikiran (brainwashing) atau istilah penulis Penguatan Citra Diri.

Banyak di antara kita yang tidak ingat, atau belum sadar bahwa kita ini adalah makhluk spiritual, makhluk yang memiliki ruh. Spirit atau ruh inilah sebenarnya diri kita. Pembuktiannya, bandingkan ketika kita menampar pipi kita sendiri dan ketika ditampar orang lain. Sama-sama ditampar tapi sakitnya berbeda, ditampar sendiri hanya sakit secara fisik saja tapi kalau ditampar orang lain ada sakit yang lain di luar sakit fisik, pasti aka nada pemberontakan. Siapakah yang memberontak? Bukan pipi tapi jiwanya. Paling tidak jengkel pada yang menamparnya.

Dalam khazanah ilmu jawa, ada istilah artadaya (diri). Dia terdiri dari dua kekuatan yaitu preyo (Ki Samurta) yaitu kekuatan yang mendorong pada kebutuhan duniawi, dan sreyo (Ki samurti) yaitu kekuatan yang mendorong pada kebutuhan rohani. Keduanya adalah amanah untuk meraih kebahagiaan dengan cara memperlakukannya dengan seimbang.

Setelah menyadari siapa diri, perlu juga kita mengetahui “mau ke mana kita”. Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah misi hidup kita. Orang bijak mengatakan, “Mulailah dari akhir! Start from the ending!”

Setelah selesai misinya di alam dunia, ruh kita akan menjalani masa tunggu di alam barzakh (alam kubur), dan selanjutnya menjalani proses perhitungan (yaumul hisab) di alam mahsyar.

Kepemimpinan Ruh

Ruh mesti mengambil alih kepemimpinan diri dan mengendalikannya. Jangan biarkan badan atau jiwa (ego: pikiran-perasaan) terus memimpin diri secara salah, dan proses kepemimpinan yang bijak adalah secara perlahan-lahan, setahap demi setahap melalui pendidikan, pelatihan, bimbingan atau pengawalan.

Sebagai ilustrasi: Mobil adalah jasad kita, bahan bakar atau bensin adalah jiwa kita, sedangkan ruh adalah kita selaku pengendara atau sopir mobil itu.

Pola kepemimpinan ruh itu mewujud, ada tindakan, ada bekas, melalui perilaku: perilaku yang mulia. Kalau di dunia kerja, wujud perilaku mulia itu mengeluarkan segenap kemampuan terbaik dengan niat demi wujudnya hasil terbaik. Dan mesti diingat, kepemimpinan itu akan diminta pertanggungjawabannya nanti.

Dengan demikian, untuk menggapai puncak spiritualitas; bukanlah dengan menyepi atau menyendiri atau menjauhkan diri dari rutinitas dunia, tapi justru sebaliknya dengan terlibat aktif dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Energi Kata

Kata mempunyai energi luar biasa, sebagai bukti, praktikkan secara serius: (1) temui atasan dan katakan “Bapak pemimpin bodoh!”, (2) temui atasan dan katakan “Bapak pemimpin hebat!” kalimat negatif yang pertama dapat menimbulkan perasaan kesal marah bahkan benci sementara kalimat positif yang kedua berpotensi membangkitkan kondisi positif, perasaan senang, suka cita, bahkan bahagia. Suatu saat suasana negatif atau positifnya akan berbalik kepada kita yang mengucapkan pernyataan tersebut. Di dalam kata ada daya dan kekuatan yang nyata.

Disinilah pentingnya kita mengucapkan kata yang baik, mengganti kata-kata negatif dengan membiasakan kata-kata positif.

Energi Citra

Albert Einstein mengatakan “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan”. Citra atau imajinasi merupakan salah satu unsur utama pembentukan peradaban atau takdir. Citra atau mimpi atau keinginan berada di wilayah ontologis, sementara pengetahuan berada di wilayah metodologis. Artinya, mimpi atau imajinasi melahirkan pengetahuan.

Citra positif merupakan cikal bakal tumbuhnya perasaan, sikap, dan tindakan positif. Imajinasi yang benar akan membangun citra-diri yang benar. Maka, bercita-citalah setinggi bintang di angkasa (secara benar), nanti kamu akan menemukan cara menggapainya. “Secara benar” yang dimaksud adalah mengikuti pola atau sistem Teknologi ruh.

Apa yang diyakini pasti terjadi, dan keyakinan bersifat netral atau bebas nilai, dalam arti ia bisa bersifat positif atau sebaliknya. Untuk membangun takdir positif, itu dimulai dengan secara gradual meningkatkan penanaman imajinasi positif dan meminimalisir imajinasi negatif.

Contoh negatif, seseorang yang mempunyai kekurangan fisik dan menganggap dirinya “jelek” atau “dipandang lucu,” maka ia akan membayangkan bahwa orang-orang yang berhubungan dengannya menertawakannya, dan dia merasa bahwa orang-orang membicarakannya dibelakang dirinya, bahkan akan mengolok-oloknya karena ia “aneh”. Imajinasi yang kuat seperti itu akan mengakibatkan dia takut bergaul. Citra-diri seperti sangat berbahaya.

Oleh karena itu, latih diri untuk menanam benih yang baik, keyakinan yang positif, keyakinan yang bermanfaat. Perlu diingat, kekuatan imajinasi bertanggung jawab atas nasib. Maka berimajinasilah dengan benar.

Kita harus sadar bahwa keyakinan terhadap sesuatu itu terdistribusi ke dalam sel-sel saraf. Secara otomatis akan tertransfer ke seluruh sistem sel di dalam tubuh, lalu sel-sel itu mengarahkan pada pengambilan keputusan tertentu.

Arsip-arsip kita merupakan jaringan berantai, saling terhubung. Jika memperbarui satu sel tertentu, maka hampir semua jaringan di sel itu ikut terbarukan. Apalagi jika mengubah sel inti, maka seluruh sistem akan ikut berubah. Sebaliknya, terlalu sering jejalan-jejalan informasi liar melintas hingga tanpa sadar terserap di diri kita hingga menumpuk dan menggunung tinggi di kedalaman diri.

Dalam hal ini, taubat akan efektif jika betul-betul mereproduksi arsip-diri, dari negatif menuju kutub positif. Arsif-diri yang menjadi sebab-muasal ini dikenal sebagai keyakinan inti atau citra-dasar.

Pikiran Bawah Sadar

Jiwa difasilitasi dua keistimewaan otonom namun menyatu tak-terpisahkan dan terkoneksi secara otomatis dan timbal-balik, yaitu pikiran yang berproses di otak dan perasaan yang berproses di jantung.

Pengendalian kedua fasilitas ini merupakan kunci untuk mengendalikan jiwa, dan itu berarti mengendalikan ruh
Secara teknis, jiwa kita kenal dengan pikiran bawah sadar. Ia merupakan gudang memori amat besar, sekaligus mesin-mesin teknis yang secara otomatis mengoperasikan sistem informasi yang terserap.

Pikiran bawah sadar itu serupa bumi, menerima segala jenis benih lalu menumbuhkan dan mengembang-biakkannya. Ketika ditanami dengan benih kesehatan, kedamaian, harmoni, dan niat baik; maka keajaiban akan terjadi di kehidupan kita

Apa pun yang dipikirkan oleh pikiran sadar, secara otomatis turun ke pikiran bawah sadar. Tradisi pikiran sadar yang harmonis, damai, dan konstruktif membentuk pikiran bawah sadar yang harmonis dan konstruktif pula.

Pikiran sadar adalah “penjaga pintu gerbang,” berfungsi sebagai pelindung pikiran bawah sadar dari hal-hal yang tidak berguna. Tugas kita adalah mendidik dan melatih si penjaga, pikiran sadar, agar terlatih memilih yang terbaik dan bermanfaat.

Di akhir tulisan ini saya ingin menulis satu paragraf utuh yang tertera di halaman 262 terkait korelasi antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar:

“Seperti halnya penulisan buku ini, ia bisa selesai setelah Ayah berani memfokuskan diri: menyelesaikan penulisan buku Teknologi Ruh! Judul buku ini Ayah tegaskan supaya Ayah bisa bisa fokus menulis dan tidak tergoda untuk menulis yang lain. Karena berdasar pengalaman, ketika sedang menulis buku ini, tiba-tiba ada goda untuk menulis yang lain, seperti menulis novel atau puisi namun lebih sering ya menulis status di facebook atau menimpali WA di beberapa group. Fokus ini melahirkan langkah berupa keberanian Ayah untuk meminta izin pamit sebentar dari beberapa group WA kawan-kawan dekat yang sangat aktif. Di sini Ayah jadi tahu, ternyata fokus pun memerlukan keberanian. Apakah kalian berani fokus? Ayah yakinkan kepada kalian: siapa berani, dia beruntung!

Ya… seperti yang saya sampaikan di awal, buku ini dikemas dalam bentuk nasihat seorang ayah kepada anak-anaknya, dan dapat dibaca ringan karena banyak menggunakan cerita dialogis dan ilustrasi analogis. Seperti yang tertera pada paragraf di atas.

Syekh Ali Sobirin, maafkan atas kelancangan saya menuliskan kembali bagian-bagian yang saya anggap penting dari buku ini, yang bisa jadi tidak sesuai selera anda. Mohon tegurannya untuk mengurangi teguran di akhirat kelak.

Barokallohu lana
Wallohu a'lam

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Barokallah,

06 Dec
Balas

Wabaroka alaika

07 Dec

Resensi luar biasa pak. Sukses selalu dan barakallah

06 Dec
Balas

Wabaroka alaiki

07 Dec

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali